Jumat, 09 Maret 2012

Laporan - pupuk Kompos 2


BAB I

PENDAHULUAN



1.1          Latar Belakang

 Sampah organik ialah sampah yang berasal dari makhluk hidup seperti dedaunan dan sampah dapur yang sifatnya mudah terurai secara alami dengan bantuan mikroorganisme.Beberapa faktor yang mempengaruhi proses pembentukan kompos seperti bahan baku, suhu, nitrogen dan kelembapan bahan sampah organik yang berasal dari sisa sayuran dapur lebih cepat terurai dan tidak berbau. Kandungan C/N bahan dengan C/N tanah harus seimbang. Selain itu kestabilan suhu harus dijaga, suhu ideal ( 40-50 ºC). Sementara nitrogen dibutuhkan oleh bakteri pengahancur untuk tumbuh dan berkembang biak. Kelembapan dalam timbunan kompos harus diperhatikan dan dijaga keseimbangannya. Kelembapan yang tinggi menyebabkan volume udara menjadi berkurang.
Sampah merupakan salah satu bentuk konsekuensi aktivitas manusia yang volumenya akan berbanding lurus dengan jumlah penduduk. Setiap saat sampah terus bertambah tanpa mengenal hari libur karena manusia secara terus-menerus akan memproduksi sampah.
      Sampah selalu menjadi momok menakutkan akibat dampak negatif yang ditimbulkan. Selain menurunkan higienitas dan kualitas lingkungan, keberadaan sampah senantiasa menimbulkan problematika sosial yang cukup pelik diberbagai pihak.
      Dalam hal ini alam memiliki andil besar  dalam pengolahan sampah secara otomatis terutama sampah organik. Akan tetapi kerja keras alam dalam pengolahan sampah secara natural sangat tidak berimbang dibanding berjuta ton volume sampah yang diproduksi. Selain itu sampah tidak selalu harus dibuang karena dengan sedikit kreatifitas dan kerja keras manusia, sampah yang tidak layak pakai dapat berubah menjadi barang kaya manfaat. Beragam jenis sampah, terutama sampah organik dapat dengan mudah dan sederhana diaplikasikan menjadi bahan olahan.
      Pengolahan sampah organik dapat dimulai dari skala rumah tangga, hasil kotoran sampah rumah tangga dapat diolah menjadi kompos. Dengan adanya pengolahan sampah rumah tangga tentunya akan meningkatkan kesehatan baik di rumah maupun lingkungan sekitarnya.
      Pengolahan sampah merupakan bagian dari perilaku hidup bersih dan sehat. Untuk mengubah kebiasaan membuang sampah menjadi mengelola sampah perlu upaya yang dimulai secara individual di setiap rumah berdasarkan uraian diatas maka pokok permasalah makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.2 Rumusan Masalah
     1. Bagaimanakah mengolah sampah organik menjadi kompos
2.  faktor apakah yang mempengaruhi pembentukan kompos.
3.  bagaimana membuat kompos sampah rumah tangga
1.3 Tujuan Masalah
      Untuk menyusun suatu karya ilmiah berdasarkan kajian teori tentang memanfaatkan sampah organik menjadi hasil olahan kompos atau pupuk.





BAB II
TINJUAN PUSTAKA
 MENGENAL SAMPAH
     Sampah bagi setiap orang memang memiliki pengertian yang relatif berbeda dan bersifat subjektif. Sampah bagi kalangan tertentu bisa menjadi harta berharga. Hal ini dikarenakan setiap orang memiliki standar hidup dan kebutuhan suatu bahan yang dibuang atau terbuang dari sumber hasill aktivitas manusia maupun alam yang belum memiliki nilai ekonomis.
      Secara sederhana, jenis sampah dapat dibagi berdasarkan sifatnya. Sampah dipilah menjadi sampah organik dan anorganik. Sampah organik ialah sampah yang berasal dari mahluk hidup, seperti dedaunan dan sampah dapur. Sampah jenis ini sangat mudah terurai secara alami. Sementara itu sampah anorganik adalah sampah yang tidak dapat terurai seperti plastic dan kelereng.
      Pengumpulan sampah organik yang mudah mengurai oleh mikroba dan membusuk yang dapat dimanfaatkan menjadi pupuk kompos akan tetapi tidak semua jenis sampah bisa dijadikan bahan dalam pembuatan kompos. Jenis yang dipakai ialah sampah organik yang mudah sekali membusuk. Pemilahan dan penyelesaian sampah merupakan tahapan penting dalam pengolahan sampah menjadi kompos.
 MENGENAL KOMPOS
      Menurut Dalzell (1991) kompos adalah hasil penguraian bahan organik oleh sejumlah mikroorganisme dalam lingkungan yang hangat, basah dan berudara dengan hasil akhir sebagai humus.
      Menurut Indriani (2005) kompos merupakan semua bahan organik yang telah mengalami penguraian sehingga bentuk dan sudah tidak dikenali bentuk aslinya, berwarna kehitam-hitaman dan tidak berbau.
      Menurut Murbandono (2006) kompos adalah bahan organik yang telah mengalami proses pelapukan karena adanya interaksi antara mikroorganisme yang bekerja di dalamnya, bahan-bahan organik tersebut seperti dedaunan, rumput jerami, sisa-sisa ranting dan dahan.
      Menurut Hadiwiyoto (2000). Kadar unsure hara dalam kompleks sangat rendah, sehingga penggunaannya lebih bersifat sebagai pengubah sifat tanah. Kompos mengandung unsure N sebanyak 2%, unsure P sebanyak 0,1-1% dan unsure K sebanyak 1-2%.
      Menurut Murbandono (2006) kompos dikatakan sudah matang apabila bahan berwarna coklat kehitam-hitaman dan tidak berbau busuk, berstruktur remah dan gembur    (bahan menjadi rapuh dan lapuk, menyusut dan tidak menggumpal), mempunyai kandungan C/N rasio rendah. Dibawah 20, tidak berbau ( kalau berbau, baunya seperti tanah ), suhu ruangan kurang lebih 30ºC, kelembapan dibawah 40 %.
Di dalam timbunan bahan-bahan organik. Pada pembuatan kompos, terjadi aneka perubahan hayati dilakukan oleh jasad-jasad renik. Hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu penguraian hidratarong, selulosa menjadi CO2 dan air,terjadi pengikatan beberapa jenis unsure hara di dalam jasad-jasad renik, terutama nitrogen, fosfor dan kalium. Unsure-unsure tersebut akan terlepas kembali bila jasad-jasad tersebut mati.
      Banyaknya perubahan yang terjadi dalam timbunan bahan kompos,oleh karena itu perlu diperhatikan hal-hal dalam pembuatan kompos yaitu persenyawaan zat arang   (C ) yang mudah diubah harus secepat mungkin diubah secara menyeluruh. Untuk itu, diperlukan banyak udara dalam timbunan bahan kompos. Proses ini dapat dipercepat dengan campuran kapur dan fosfat atau campuran zat lemas secukupnya. Zat lemas yang digunakan harus mempunyai perbandingan C/N kecil. Persenyawaan zat lemas sebagian besar harus diubah menjadi persenyawaan amoniak, tidak hanya terikat sebagai putih telur di tubuh bakteri. Oleh karena itu dibutuhkan perbandingan C/N yang baik. Jika perbandingan C/N kecil, akan banyak amoniak yang dibebaskan oleh bakteri. Nitrat di dalam tanah segera diubah menjadi niat yang mudah diserap tanaman. Pengomposan dikatakan bagus apabila zat lemas yang hilang tidak terlalu banyak.
      Sisa pupuk sebagai bunga tanah harus diusahakan sebanyak mungkin. Agar kadar bunga tanah bertambah, diperlukan bahan baku kompos yang banyak mengandung lignin, misalnya jerami yang berkadar 16-18%. Selain itu persenyawaan kalium dan fosfor yang berubah menjadi zat yang mudah diserap oleh tanaman merupakan proses yang baik dalam pengomposan. Dalam proses pengomposan, sebagian besar kalium. Kalium mudah diserap tanaman. Selain itu fosfor sebanyak 50-60% yang berbentuk larutan akan mudah diserap tanaman.
      Menurut Yuwono ( 2002 ) proses pengomposan dapat berjalan dengan baik apabila perbandingan antara komposisi C dengan N berkisar antara 25:1 sampai 30:1
PERMASALAHAN SAMPAH
       Sampah adalah material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah merupakan konsep buatan dan konsekuensi dari adanya aktivitas manusia. Bagi setiap orang sampah memiliki pengertian yang relative berbeda dan bersifat subjektif. Bagi beberapa kalangan masyarakat sampah bisa menjadi barang kaya manfaat. Hal ini dikarenakan setiap orang memiliki standar hidup dan kebutuhan yang tidak sama.
      Namun pada prinsipnya, sampah adalah suatu bahan yang dibuang atau terbuang dari hasil aktivitas manusia maupun  alam yang belum memiliki nilai ekonomis. Berdasarkan sifatnya sampah dipilah menjadi sampah organik dan sampah anorganik.
      Oleh sebab itu sampah selalu menjadi persoalan rumit terutama masyarakat yang kurang memiliki kepekaan terhadap lingkungan. Sampah tidak hanya terdapat di perkotaan  yang padat penduduk, pedesaan lokasi lain  pun tidak akan terlepas dari masalah-masalah sampah.
      Sumber permasalahan sampah selalu hadir bukan saja di tempat pembuangan sampah sementara (TPS) selain itu di tempat pembuangan akhir pun juga (TPA). Penyebab penumpukan sampah dipengaruhi oleh:
1)  Volume Sampah yang sangat besar dan tidak diimbangi oleh daya tampung tempat pembuangan akhir sehingga melebihi kapasitasnya.
2)   Lahan pembuangan akhir menjadi semakin sempit akibat tergusur untuk penggunaan lain
3)   Jarak pembuangan akhir dan pusat sampah relative jauh hingga waktu untuk mengangkut sampah kurang efektif.
4)   Fasilitas pengangkutan sampah terbatas dan tidak mampu mengangkut seluruh sampah. Sisa sampah di pembuangan sementara akan berpotensi menjadi tumpukan sampah
5)   Teknologi pengolahan sampah tidak optimal sehingga lambat membusuk.
6)   Sampah yang telah matang dan berubah menjadi kompos, tidak segera dikeluarkan dari tempat penampungan. Sehingga semakin menggunung
7)   Tidak  semua lingkungan memiliki lokasi penampungan sampah masyarakat sering membuang sampah di sembarangan tempat sebagai jalan pintas.
icon cool MEMANFAATKAN SAMPAH ORGANIK MENJADI HASIL OLAHAN KOMPOS PADA SKALA RUMAH TANGGA  Kurangnya sosialisasi dan dukungan  pemerintah mengenai pengelolaan  dan pengolahan sampah serta produknya
9)  Minimnya  pengolahan ataupun edukasi mengenai  sampah secara tepat.
10) Manajemen sampah yang tidak efektif yang dapat menimbulkan kesalahpahaman, terutama bagi masyarakat sekitar.
      Berdasarkan jenisnya sampah dibagi menjadi dua jenis, yaitu sampah anorganik, yaitu sampah yang berasal dari sumber daya alam tak diperbarui seperti mineral dan minyak bumi. Beberapa dari lahan ini tidak terdapat di alam seperti plastic dan alumunium. Sebagai zat anorganik secara keseluruhan tidak dapat diuraikan oleh alam, sedangkan yang lainnya hanya dapat diuraikan melalui proses yang cukup lama. Sampah jenis ini pada tingkat rumah tangga misalnya botol kaca, botol plastik, tas plastik dan kaleng. Kertas, koran dan karton termasuk sampah organik. Tetapi karena kertas, koran dan karton dapat di daur ulang seperti sampah anorganik lainnya, maka dimasukkan ke dalam kelompok-kelompok sampah anorganik.
      Sampah organik terdiri dari bahan-bahan penyusun timbunan dan hewan yang berasal dari alam atau dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan,rumah tangga. Sampah ini dengan mudah diuraikan dalam proses alami. Sampah rumah tangga sebagian besar merupakan bahan organik. Yang termasuk sampah organik, misalnya sampah dari dapur, sisa tepung, sayuran, kulit buah dan daun. Sampah organik  tersebut apabila telah mengalami proses pelapukan karena adanya interaksi mikroorganisme akan menjadi pupuk
 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBENTUKAN KOMPOS
      Penggunaan kompos sebagai pupuk sangat baik karena dapat memberikan manfaat antara lain menyediakan unsure hara mikro bagi tanaman, menggemburkan tanah, memperbaiki struktur dan tekstur tanah,meningkatkan daya ikat tanah terhadap air, memudahkan pertumbuhan akar tanaman, menyimpan air tanah lebih lama, mencegah lapisan kering pada tanah, mencegah beberapa penyakit akar menjadi salah satu alternative pengganti pupuk kimia karena harganya lebih murah, berkualitas dan ramah lingkungan, menjadi pupuk masa depan karena pemakaiannya lebih hemat, bersifat multi lahan karena bisa digunakan di lahan pertanian, perkebunan dan reklamasi lahan kritis.
      Dalam pembentukan kompos ada beberapa faktor yang hanya dipahami yaitu mulai dari pemilihan sampah organik yang dapat dimanfaatkan akan tetapi tidak semua sampah organik yang dapat digunakan dalam pembuatan kompos, sebab bisa menimbulkan bau busuk dan menimbulkan bibit penyakit, oleh karena itu perlu diperhatikan hal-hal yang harus dihindari seperti daging, tulang, duri-duri ikan, produk-produk yang berasal dari susu, sisa-sisa makanan berlemak, kulit-kulit keras biji kenari, kotoran hewan dan rumput liar dengan biji yang matang, namun jika akan memanfaatkannya juga, maka biji-biji tersebut harus dimatikan dahulu melalui pemanasan.
       Kecepatan suatu bahan menjadi kompos dipengaruhi oleh kandungan C/N, semakin mendekati C/N tanah maka bahan tersebut akan lebih cepat menjadi kompos. Tanah pertanian yang baik mengandung perbandingan unsure C dan N yang seimbang. Bahan-bahan organik tersebut harus dikomposkan terlebih dahulu sebelum digunakan agar C/N bahan itu menjadi lebih rendah atau mendekati C/N tanah. Itulah sebabnya bahan-bahan organik  tidak bisa langsung dibenamkan dan membiarkannya terbenam sendiri karena struktur bahan organik tersebut kasar, daya ikatnya terhadap air amat lemah, sehingga bila langsung dibenamkan ke tanah, tanah akan menjadi berderai. Hal ini dapat dilakukan bagi tanah yang berat, akan tetapi akan berakibat buruk bagi tanah yang ringan(pasir) dan akan lebih buruk lagi pada kawasan tanah yang terbuka. Penimbunan bahan organik begitu saja di tanah yang kaya udara dan air tidaklah baik karena penguraian terjadi amat cepat. Akibatnya, jumlah CO2 dalam tanah akan meningkat cepat. Kondisi seperti ini akan sangat menganggu pertumbuhan tanaman.
      Selain kandungan C/N dalam bahan, permukaan bahan juga mempengaruhi kecepatan pengomposan. Makin halus dan kecil bahan baku kompos maka peruraiannya akan makin cepat dan hasilnya lebih banyak. Dengan semakin kecilnya bahan, bidang permukaan bahan yang terkena bakteri pengurai akan semakin kuat sehingga proses pengomposan dapat lebih cepat. Sebaliknya bila bahan baku berukuran besar, permukaan yang terkena bakteri lebih sempit sehingga proses pengomposan lebih lama. Itulah sebabnya bahan baku tersebut harus dipotong-potong.
      Selain itu dalam pembuatan kompos perlu dijaga kestabilan suhu ( mempertahankan panas ) pada suhu ideal (40-50ºC). Untuk mempertahankan panas dapat dilakukan dengan menimbun bahan sampai pada ketinggian tertentu, idealnya 1,25-2m.  Timbunan yang terlalu pendek atau rendah akan menyebabkan panas mudah menguap. Hal ini dikarenakan tidak adanya bahan material yang digunakan.
      Untuk menahan panas dan menghindari pelepasan panas. Suhu yang kurang akan menyebabkan bakteri pengurai tidak dapat berkembang. Sebaliknya, timbunan bahan terlalu tinggi bisa membunuh bakteri pengurai. Adapun kondisi yang kekurangan udara dapat memacu pertumbuhan bakteri anaerob yang menimbulkan bau tidak enak.
      Nitrogen salah satu faktor yang mempengaruhi dalam pembentukan kompos, sebab nitrogen dibutuhkan oleh bakteri penghancur untuk tumbuh dan berkembang baik. Timbunan bahan kompos yang kandungan nitrogennya rendah tidak menghasilkan panas, sehingga pembusukan bahan-bahan akan terhambat. Oleh karena itu, semua bahan dengan kadar C/N yang tinggi, misalnya kayu, biji-bijian yang keras dan tanaman menjalar harus dicampur dengan bahan-bahan yang berair, pangkasan daun dari kebun dan sampah-sampah lunak dari dapur amat tepat digunakan sebagai bahan pencampur. Apabila bahan-bahan yang mengandung nitrogen tidak tersedia bahan kompos bisa ditambah dengan berbagai pupuk organik (pupuk kandang).
      Kelembapan dalam timbunan kompos harus diperhatikan dan dijaga keseimbangannya. Kelembapan yang tinggi (bahan dalam  keadaan becek)akan mengakibatkan volume udara menjadi berkurang. Makin basah timbunan bahan maka kegiatan mengaduk harus makin sering dilakukan. Dengan demikian volume udara terjaga stabilitasnya.
      Sampah-sampah hijau umumnya tidak membutuhkan air sama sekali pada awal pembuatan kompos. Namun pada dahan dan ranting kering serta rumput-rumputan harus diberi air pada saat membuat timbunan kompos. Secara menyeluruh kelembapan timbunan harus mencapai 40-60%.
Timbunan kompos akan mulai berasap pada saat panas mulai timbul. Pada saat itu, bagian tengah akan menjadi  kering setelah itu proses pembusukan bisa berhenti secara mendadak. Untuk mencegahnya, panas dan kelembapan dalam timbunan bahan perlu dikontrol. Caranya dengan menusukkan tongkat ke dalam timbunan. Jika tongkat itu hangat dan basah, serta tidak tercium bau busuk berarti proses pengomposan telah berjalan baik.
      Di daerah yang  bercuaca kering, timbunan bahan kompos dapat diairi tiap 4-5 hari sekali. Sebaliknya, di daerah yang banyak curah hujannya, timbunan kompos harus dijaga agar tidak terlalu becek. Usaha yang dapat dilakukan yakni dengan membuat puncak timbunan menyerupai atap dan agak membulat agar dapat mengalirkan airnya. Namun, bila hujan tak ada hentinya dan amat deras, timbunan kompos masih tetap terlalu basah atau becek sehingga bakteri anaerob mulai tumbuh, maka perlu dilakukan pengadukan setiap hari. Hal ini dapat mengembalikan keadaan yang normal.
 MENGOLAH SAMPAH ORGANIK MENJADI KOMPOS
       Dalam pembuatan kompos, hal pertama yang dilakukan yaitu persiapan, baik bahan maupun tempatnya. Langkah pertama yang harus dipersiapkan yaitu bahan-bahan organik yang akan dikomposkan dipotong-potong atau dicacah agar proses pengomposan berlingsung cepat. Selain itu untuk mempercepat pengomposan, diperlukan dedak halus karena bahan-bahan ini akan ditumpuk maka perlu dipersiapkan tempatnya.
      Tempat yang sederhana di tanah (bahan ditumpuk diatas tanah). Untuk menjaga agar tidak tergenang sewaktu hujan, perlu dibuat bendungan dengan ukuran sesuai kondisi lahan, misal panjang 3 m, lebar1 m dan tinggi 25-30 cm. Untuk menghindari curah hujan, dapat dibuat naungan dengan atap dari genting, rumbia atau bahan lainnya.
Selain ditumpuk diatas tanah, bahan-bahan organik dapat ditumpuk dalam bak penampung. Bak ini bisa beraneka ragam modelnya tergantung kebutuhan.
 Ember berlubang
 Ember bekas cat seperti ini dapat disulap menjadi komposter sederhana dengan memberi lubang yang cukup untuk aerasi. Mirip dengan Takakura, digunakan bantal sekam dan kardus untuk mengontrol kelembaban dan mengurangi bau. Komposter model ini digunakan di Penjaringan, Jakarta Utara.
 Bak penampung harus mempunyai ventilasi yang baik sehingga udara dapat keluar masuk dengan bebas. Aliran udara yang tidak lancer dapat menyebabkan pengomposan tidak sempurna. Salah satu model bak yang praktis dan murah adalah seperti boks bayi dengan daya tampung sekitar 1 m3. Bahan yang diperlukan dalam pembuatan bak ini seperti papan,bamboo, kawat ram dan paku. Dalam pembuatan bak yang terpenting yaitu adanya ventilasi. Ventilasi dapat dibuat dengan memasang kawat ram  atau papan-papan yang dirangkai diberi jarak.
 Drum/tong
Menggunakan tong plastik berukuran 120L yang dilengkapi pipa vertical dan horizontal agar proses berlangsung secara aerob (dengan udara). Salah satu pengguna komposter jenis ini adalah masyarakat di Jambangan, Surabaya.
 Bak/kotak
Metoda ini  menggunakan konstruksi sederhana pasangan bata yang dikombinasikan dengan bilik kayu sebagai pintu untuk ruang pengomposan.  Cara ini digunakan di Kebun Karinda Lebak Bulus, Jakarta.
 Untuk memudahkan pembalikan kompos, sisi-sisi bak dicopot dan dipasang kembali disebelah timbunan. Kedalam sehingga bagian atas akan menjadi bagian bawah.
 MENGOLAH SAMPAH RUMAH TANGGA
      Sampah rumah tangga sangat ideal dijadikan kompos karena selain dapat memanfaatkannya sebagai kompos, lingkungan pun terhindar dari pencemaran. Sampah yang dimaksud yaitu sampah organik yang berasal dari sampah rumah tangga untuk mengolah sampah rumah tangga, diperlukan alat yang disebut composer. Untuk membuat komposter diperlukannya drum atau tong plastic yang mempunyai tutup, pipa paralon berdiameter 4 inci, kasa plastic untuk menutup lubang pipa bagian uar dan batu kerikil.
 Cara pembuatan komposter yang pertama bagian atas tong plastic diberi 4 lubang diameter 4 inci untuk memasang pipa:
1)      Bagian bawah juga dilubangi dengan diameter yang sama, sebanyak 4-5 lubang, lalu ditutup kasa plastic untuk jalan air
2)      Ujung-ujung pipa bagian luar ditutup kasa plastic untuk sirkulasi udara
3)      Pipa dilubangi dengan bor sebesar 5 mm dengan jarak 10 cm untuk udara,
4)      Pasang pipa pada empat sudut tong, lalu tanam ditanah. Tempatkan pada bagian yang tidak kena hujan secara langsung.
5)      Tepi tong ditutup batu kerikil setebal 15 cm. Demikian juga sekeliling pipa ditutup kerikil, baru ditutup tanah. Tempat sampah biasanya berbau karena sampah organik cepat membusuk sehingga diperlukan kerikil, baru ditutup tanah. Tempat sampah biasanya berbau karena sampah organik cepat membusuk sehingga diperlukan kerikil untuk meredam bau tersebut. Tong tersebut diisi dengan sampah rumah tangga, tentunya sampah organik, tetapi jangan diikutkan dengan kulit telur dan kulit kacang sebab sukar menjadi kompos. Setelah penuh, tong ditutup dan dibiarkan selama 3-4 bulan. Selama itu akan terjadi proses pengomposan. Sampah yang sudah jadi kompos berwarna hitam dan gembur seperti tanah. Ambil kompos itu dari composer, lalu diangin-anginkan sekitar seminggu sesudah itu kompos sudah siap untuk pupuk tanaman.
      Dalam komposter tersebut akan bermunculan belatung yang mungkin bisa menimbulkan rasa jijik. Belatung muncul dari sampah-sampah organik yang mengalami pembusuk. Kehadiran belatung dinantukan Karena tugasnya melahap sampah dapur. Supaya belatung tidak berkeliaran maka tutup tong harus dijaga dalam keadaan rapat.
      Untuk mendapatkan kompos yang lebih terjamin keberhasilannya dibutuhkan enam langkah yang perlu yaitu penyusunan pembuatan kompos. Langkah yang pertama yaitu penyusunan tumpukan bahan kompos ditumpukkan diatas bilah-bilah bamboo atau kayu. Selama 1-2 hari diperciki air sampai lembab tetapi tidak becek. Langkah  yang kedua yaitu pemantauan suhu dan kelembapan tumpukan dari hari keempat hingga hari ke empat puluh, tumpukan dijaga agar suhunya 45-65C. Dan kelembapannya sekitar 50%. Secara sederhana, kelembapan dapat diukur dengan cara memasukkan tongkat kayu kedalam tumpukkan kompos, lalu mengeluarkannya. Bila tongkat kering, berarti kelembapannya kurang sehingga perlu dibalik dan disiram. Bila tongkat basah (lembab) berarti kelembapannya telah sesuai. Namun bila tongkat terlalu basah maka kelembapannya terlalu tinggi sehingga perlu dibalik. Cara mengukur lainnya dengan memegang bahan kompos. Kelembapan ideal ditandai dengan bahan yang basah, tetapi tidak ada air yang menetes. Adapun suhu diukur dengan cara memasukan tangan kedalam tumpukan kompos.  Suhu 45-65ºC. Langkah ketiga yaitu pembalikkan dan penyiraman, pembalikkan tumpukan dilakukan jika terjadi suhu tumpukkan diatas 65ºC atau dibawah 45ºC tumpukkan terlalu basah atau dibawah 45ºC tumpukan terlalu basah atau terlalu kering. Apabila suhu masih 45-60ºC dan kelembapannya 50% tumpukan kompos belum waktunya dibalik. Langkah keempat yaitu pematangan, hari ke-45 tumpukan telah memasuki masa pemotongan. Kompos yang matang ditandai dengan suhu tumpukan yang menurun mendekati suhu ruang, tidak berbau busuk, bentuk fisik menyerupai tanah dan berwarna kehitam-hitaman. Pemotongan berlangsung selama 14 hari. Langkah kelima yaitu pengayakan kompos, tujuan dilakukan pengayakan yaitu agar memperoleh ukuran kompos sesuai yang dikhendaki, memilah bahan yang belum terkomposkan secara sempurna dan mengendalikan mutu kompos. Langkah terakhir yaitu pengemasan dan penyimpanan kompos yang sudah disaring, dikemas kedalam kantung atau karung. Setelah itu disimpan ditempat yang kering atau diletakan diatas papan.
 KESIMPULAN
           Setelah dilakukan kajian teori terhadap pokok permasalahan sebagaimana dikemukakan sebelumnya, dapat diambil suatu kesimpulan:
  • Upaya menjaga lingkungan sehat bebas dimasalah sampah dimulai dengan mengubah kebiasaan membuang sampah menjadi mengolah sampah menjadi kompos. Mengolah sampah organik kompos merupakan proses alami yang disebabkan oleh mikroorganisme yang ada didalam sampah. Tidak semua sampah organic bisa diolah menjadi kompos, penting dilakukan tahapan pemisahan sampah organic supaya dihindari dari sisa daging, tulang, duri-duri ikan, produk-produk yang berasal dari susu, sisa makanan berlemak, agar diperoleh hasil olahan kompos kualitas baik yang tidak berbau.
  • Pentingnya memperhatikan faktor yang mempengaruhi pembentukan kompos seperti bahan baku, suhu, nitrogen, kelembapan.
  • Proses pembuatan kompas sampah rumah tangga di perlukan alat yang biasanya disebut komposter. Hasil olahan kompos sampah rumah tangga bermanfaat sebagai pupuk organic bagi tananaman.
UCAPAN TERIMA KASIH
       Puji syukur dipanjatkan kepada tuhan yang maha kuasa atas izin Nyalah, penulis dapat menyelesaikan sebuah tulisan ilmiah. Dengan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
Prof.Ir.Urip Santoso, S.IKom, Ph.D.  sebagai dosen pengasuh mata kuliah pengajian ilmiah.
Adi Setiawan yang telah membantu dalam proses penulisan makalah ini.
Tak ada gading yang tak retak, penulis menyadari tulisan ini masih banyak kelemahannya. Kritik dan saran diharapkan untuk mencapai kesempurnaan, semoga saja tulisan ini bermanfaat.
 DAFTAR PUSTAKA
 1.      Arik, 2007, Sapi-sapi penyelamat dari Putri Cempo, Publikasikan oleh Majalah Kabari
 2.      Dahuri, Deri, 2004, Sampah Organik, Kotoran Kerbau Sumber Energi Alternatif, Sumber Media Indonesia, energi – http://www.energi.lipi.go.id
 3.      Environmental Services Program. Comparative Assessment on Community Based Solid Waste Management (CBSWM) – Medan, Bandung, Subang, and Surabaya. November 2006. Development Alternatives, Inc. for USAID.
 5.      Maulidia, Rusnadi, Teguh, 2008, Sampah Organic Bantar Gebang Sebagai Sumber Biogas Indonesia, SMAN 1 Tambun Selatan, Bekasi.
 6.      Murbandiono,2008, Membuat Kompos Edisi Telivisi,Penerbit : Penebar Swadaya, Jakarta.
 7.      Murniati Sri, 2008, Model Pengelolaan Sampah Organik, Publikasikan oleh sobirindpklts @yahoo.com
 8.      Penulis PS, Tim, 2008, Penanganan dan Pengolahan Sampah, Penerbit : Penebar Swadaya, Jakarta
 9.      Sofian, 2006, Sukses Membuat Kompos Dari Sampah, Penerbit : Agro Media Pustaka, Jakarta.
 10.    Suriawira, Unus,1986, Mirobiologi Air, penerbit: Alumni, Bandung.
 11.    Tarigan, Sringenana,2008, Alumni Jerman Yang Menggeluti Sampah Di Kota Balikpapan, Penerbit : Wuski, Tahun X, Nomor 3.
 12.    Tisna,nuning,2007, Pengolahan Sampah Organik Untuk Material Seni Rupa,Laporan Hasil Riset Unggul ITB 2007.
 13.    Udayana Universitas, 2007, Pemanfaatan Sampah Organic Menjadi Kompos Dengan Bantuan Mikroorganisme.
 14.    2007, Sampah diolah jadi kompos organic, sumber WawasanDigital IT Koran Sore Wawasan.
 15.    2009, Siswa Dilatih Mengolah Sampah Organik, sumber Radar Banjar Masin online.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar