Kamis, 27 Maret 2014

POPULASI DAN SAMPEL DALAM PENELITIAN


 

6.1 Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. (Sugiyono, 2009:61)

Nana Syaodih Sukmadinata (2008:250) menyebutkan bahwa orang-orang, lembaga, organisasi, benda-benda yang menjadi sasaran penelitian merupakan anggota populasi. Anggota populasi yang terdiri atas orang-orang biasa disebut subyek penelitian, tetapi kalau bukan orang disebut obyek penelitian. Penelitian tentang suatu obyek mungkin diteliti langsung terhadap obyeknya, tetapi mungkin juga hanya dinyatakan kepada orang yang mengetahui atau bertanggung jawab terhadap obyek tersebut. Orang yang diminta menjelaskan obyek yang diteliti disebut responden.

Sedangkan menurut Santoso dan Tjiptono (2002:79) Populasi merupakan sekumpulan orang atau objek yang memiliki kesamaan dalam satu atau beberapa hal dan yang membentuk masalah pokok dalam suatu riset khusus. Populasi yang akan diteliti harus didefinisikan dengan jelas sebelum penelitian dilakukan.

Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/subyek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subyek  atau obyek itu.

6.2 Sampel

Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin meneliti semua yang ada pada populasi, (misalnya karena keterbatasan dana, tenaga, dan waktu) maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi itu. Untuk sampel yang diambil dari populasi harus benar-benar representatif (mewakili). Bila sampel tidak representatif, maka resiko yang dihadapi peneliti ialah tidak dapat menyimpulkan sesuai dengan kenyataan atau membuat kesimpulan yang salah.

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan dapat diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif (mewakili). (Sugiyono, 2009:62)

Tidak semua anggota dari populasi target diteliti. Penelitian hanya dilakukan terhadap sekelompok  anggota populasi yang mewakili populasi. Kelompok kecil yang secara nyata kita teliti dan tarik kesimpulan dari padanya disebut sampel. (Nana Syaodih Sukmadinata, 2008:250)

6.3 Penelitian Menggunakan Sampel dan Populasi

Penelitian yang bekerja dengan sampel, berarti hanya mengambil sebagian saja dari anggota populasi untuk dijadikan sebagai sampel dan selanjutnya berdasarkan analisis sampel dibuat generalisasi. faktor penting disini adalah generalisasi, artinya seberapa jauh simpulan dari analisis sampel dapat digeneralisasikan. Kemampuan generalisasi ini sangat tergantung dari besarnya sampel. Sampel yang representative (mewakili) memiliki kemampuan generalisasi.

Penelitian yang bekerja dengan sensus, tidak perlu menghadapi persoalan generalisasi. Peneliti terhindar dari sampling karena jumlah sampel yang diambil sama dengan jumlah anggota populasi. Pada penelitian sensus peneliti biasanya berhadapan dengan kendala biaya, waktu dan tenaga.

6.4 Kriteria Sampel yang Baik

Suatu pengambilan sampel yang ideal mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:

1)        Dapat menghasilkan gambaran yang dapat dipercaya dari seluruh populasi yang diteliti.

2)        Dapat menentukan presisi dengan cara menentukan simpangan baku dari taksiran yang diperoleh.

3)        Sederhana hingga mudah dilaksanakan.

4)        Dapat memberikan keterangan sebanyak mungkin dengan biaya serendah-rendahnya.

Dalam menentukan metode pengambilan sampel dalam penelitian, peneliti harus benar-benar mempertimbangkan besarnya waktu, biaya, dan tenaga yang diperlukan dalam penelitian dengan presisi yang diharapkan dari hasil penelitian. Apabila jumlah biaya, tenaga, dan waktu telah dibatasi sejak semula, peneliti harus berupaya mendapatkan metode pengambilan sampel yang dapat menghasilkan presisi yang tertinggi.

6.5 Pertimbangan Penentuan Ukuran Sampel

Empat hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan besarnya sampel dalam suatu penelitian:

1)        Derajat keseragaman

Apabila populasi seragam sempurna, maka satu elementer saja dari seluruh populasi sudah cukup representatif untuk diteliti. Jika populasi adalah completely heterogeneous, maka hanya pencacahan lengkaplah dapat memberikan gambaran yang refresentatif.

2)        Presisi yang dikehendaki dalam penelitian

Tingkat ketepatan ditentukan oleh perbedaan perbedaan hasil sampel dengan hasil pencacahan lengkap, dengan asumsi instrumen, teknik wawancara, kualitas pewawancara yang digunakan sama. Secara kuantitatif presisi diukur dari standar error, makin kecil kesalahan baku, makin besar tingkat presisi.

3)        Rencana analisis

Rencana analisis data dengan teknik analisis tertentu sangat menentukan besarnya sampel yang harus diambil.

4)        Tergantung pada ketersediaan biaya, tenaga dan waktu.

6.6 Ukuran Sampel

Berdasarkan atas petimbangan penentuan ukuran sampel. Peneliti dapat menentukan ukuran sampel yang dapat dipandang representatif mewakili populasi. Makin besar jumlah sampel mendekati populasi, maka peluang kesalahan generalisasi semakin kecil dan sebaliknya makin kecil jumlah sampel menjauhi populasi, maka makin besar kesalahan generalisasi. Selanjutnya berapakah jumlah sampel yang dipandang representatif mewakili populasi? Jawabannya tergantung pada tingkat presisi yang dikehendaki. Presisi yang dikehendaki dapat dipresentasikan dari derajat kesalahan secara statistic apakah 1%, 5%, atau 10%. Semakin tinggi presisi yang dikehendaki, semakin kecil tingkat kesalahan yang harus ditentukan. Derajat kesalahan 1% memiliki presisi lebih tinggi daripada derajat kesalahan 5% atau 10%. Rumus yang dikembangkan Isaac dan Michael (sugiyono,2000; mantra, 2003) untuk menentukan besarnya sampel berdasarkan tingkat kesalahan yang ditoleransi 1%, 5%, dan 10%.

6.7 Sumber Kesalahan Sampel

1)        Sampling frame error

Adalah kesalahan yang terjadi bila elemen sampel tertentu tidak diperhitungkan, atau bila seluruh populasi tidak diwakili secara tepat oleh kerangka sampel.

2)        Random sampling error

Adalah kesalahan akibat adanya perbedaan antara hasil sampel dan hasil sensus yang dilakukan dengan prosedur yang sama. Kesalahan ini dapat terjasi karena fluktuasi statistik yang terjsi karena variasi peluang dalam elemen sampel yang dipilih. Cara memperkecilnya adalah dengan meningkatkan jumlah sampel. Semakin banyak sampel yang diambil, maka kesalahan sampel akan semakin menurun.

3)        Nonresponse error

Adalah kesalahan akibat perbedaan statistik antara survei yang hanya memasukkan mereka yang merespon dan tidak mereka yang gagal merespon. Penyimpangan ini terjadi akibat beberapa hal, yaitu :

ü  Kesalahan perencanaan, seperti tidak tepatnya pemakaian definisi, kriteria, satuan-satuan ukuran, dan lain-lain.

ü  Penggantian sampel.

ü  Salah tafsir petugas maupun responden.

ü  Salah tafsir responden

ü  Responden sengaja salah menjawabnya.

ü  Kesalahan dalam pengolahan data dan penerbitannya.

Penyimpangan yang terjadi karena kesalahan sampel dan kesalahan nonsampel disebut kesalahan total. Kesalahan sampel dapat diperkecil dengan pemakaian metode pengambilan sampel yang tepat, sedangkan kesalahan nonsampel dapat diperkecil dengan perencanaan dan pelaksanaan yang diteliti dari penelitian yang bersangkutan.

6.8 Tahap Pemilihan Sampel

Setelah jumlah sampel yang representatif dapat ditentukan, langkah selanjutnya adalah pemilihan sampel. Sebelum dilakukan pemilihan sampel dengan terlebih dahulu perlu dipahami mengenai unsure sampling dan kerangka sampling. Dalam suatu populasi unsure-unsur atau elemen yang diambil sebagai sampel disebut unsure sampling. Unsur sampling diambil dengan menggunakan kerangka sampling. Kerangka sampel (Sample Frame) adalah representasi fisik dari objek, individu, kelompok yang sangat penting dalam penentuan sampel. Kerangka sampling merupakan daftar semua unsure sampling dalam populasi sampling.

Sebuah kerangka sampling yang baik harus memenuhi syarat-syarat berikut:

1)        Harus meliputi seluruh unsure sampel (tidak satupun yang tertinggal)

2)        Tidak ada unsure sampel yang dihitung dua kali

3)        Harus up to date

4)        Batas-batasannya harus jelas (siapa-siapa yang menjadi anggota rumah tangga)

5)        Harus dapat dilacak di lapangan (Mantra dan Kasto, 1989, Mantra, 2003)

Tahap Proses Pemilihan Sampel, meliputi:

1)        Penentuan Populasi: menentukan apa yang menjadi elemen populasi (individu, organisasi, produk)

2)        Penentuan Unit Pemilihan Sampel: menentukan kelompok-kelompok elemen berdasarkan desain sampel yang digunakan.

3)        Penentuan Kerangka Pemilihan Sampel: menentukan daftar elemen dari setiap unit pemilihan sampel.

4)        Penentuan Desain Sampel: menentukan teknik sampling yang digunakan (probability sampling atau non probability sampling)

5)        Penentuan Jumlah Sampel: menentukan jumlah atau besarnya sampel yang digunakan dalam penelitian.

6)        Pemilihan Sampel: menentukan elemen yang akan menjadi sampel dari penelitian yang dilakukan.

6.9 Metode Pengambilan Sampel / Teknik Sampling

Probability sampling merupakan cara pengambilan sampel secara random atau acak yang dapat dilakukan dengan bilangan random, computer, maupun dengan undian. Bila pengambilan dilakukan dengan undian, maka setiap anggota populasi diberi nomor terlebih dulu sesuai dengan jumlah anggota populasi. Karena teknik pengambilan sampel adalah random, maka setiap anggota populasi mempunyai peluang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel.

Ada dua metoda pengambilan sampel, yaitu pengambilan sampel berbasis pada probabilitas (pemilihan secara random) atau pengambilan sampel secara nonprobabilitias (pemilihan nonrandom)

Secara probalititas (pemilihan secara random), metoda-metoda yang dapat digunakan adalah:

1.    Random sederhana (simple random).

2.    Random komplek (complex random) yang dapat berupa sebaga berikut ini:

a)        Systematic random sampling.

b)        Cluster sampling.

c)        Stratified sampling.

d)       Double sampling.

 

 

Secara nonprobabilitas (pemilihan non-random) dapat dilakukan metoda-metoda sebagai berikut:

1.    Convenience.

2.    Purposive, terdiri dari:

a)    Judgment.

b)   Quota.

c)    Snowball.



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar